
Pergi ‘tuk Kembali
April 1, 2025
BATIC 12th Edition
April 5, 2025“Perfect”, “good”, “excellent”! Itulah deretan ungkapan yang ingin menggambarkan sebuah kesempurnaan, keberhasilan dari suatu usaha atau kerja keras seseorang. Setiap orang pasti sangat mendambakan untuk dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna, tanpa ada kekurangan atau cacat cela. Maka tak jarang berbagai cara pun mereka lakukan untuk menggapai kesempurnaan itu. Di kantor misalnya, tak jarang karyawan saling bersaing satu sama lain hanya karena ingin menunjukkan sebuah kinerja yang diharapkan oleh atasannya. Mungkin di dalam ruangan mereka terlihat akrab dan bersahabat, tetapi di dalam hati mereka saling mencurigai. Tak hanya itu, bahkan di tingkat yang terkecil pun, seperti di sekolah sering terjadi hal demikian. Perselisihan dan persaingan kecil antar siswa pun terjadi, mereka saling beradu prestasi hanya untuk menunjukkan bahwa “aku hebat, aku pintar”, dengan kata lain ingin mengatakan “aku yang terbaik”.
Jadi, apa sebenarnya arti kesempurnaan itu?
Kesempurnaan itu relatif, artinya, sebuah benda atau usaha itu disebut ”sempurna” apabila selaras, atau berkaitan dengan tujuan yang ditetapkan oleh si perancang atau pembuatnya. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48). Jadi kesempurnaan itu adalah milik Allah Sang Pencipta, Sang Perancang kehidupan. Bagi manusia, dibanding dengan angka 1, angka 99 itu lebih sempurna karena mendekati nilai 100, tetapi berbeda dengan ukuran kesempurnaan Tuhan. Dalam kisah Domba yang Hilang (Mat 18:12), seorang gembala memilih umtuk meninggalkan 99 ekor dombanya demi mencari yang seekor itu. Jadi angka kecil atau sesuatu yang kecil pun dianggap berharga di hadapan Allah. Berbeda dengan pandangan manusia, terkadang kesalahan kecil saja dianggap sebagai sebuah cacat cela yang dapat menghapus kebaikan yang pernah dilakukan sepanjang hidup dan karena cacat itu seseorang dinilai tidak lagi berharga. Maka tak heran jika banyak diantara orang merasa diri tidak berguna, tidak berharga, dan tidak dapat berbuat apa-apa. Itu karena sikap yang dengan mudah menilai dan menghakimi orang lain dengan ukuran kesempurnaan manusia, menganggap diri adalah yang paling baik dan secara tidak langsung menyamakan diri seperti Allah.
Ada orang bijak mengatakan; “Jika aku menunggu kesempurnaan, aku tidak akan pernah menulis sepatah kata pun” (Margaret Atwood). Jika demikian, apakah mencari dan menciptakan kesempurnaan itu salah? Tentu saja tidak, asalkan seseorang mau berproses dan tidak merugikan atau menuntut orang lain seturut kehendaknya. Untuk itu milikilah “Kasih atau Cinta” maka semua akan terlihat baik dan sempurna. Sebab “kasih itu sabar,…ia tidak mencari keuntungan diri sendiri, …ia tidak menyimpan kesalahan orang lain,…percaya segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan” (1 Kor. 13). Dengan demikian ketidaksempurnaan menjadi salah satu jalan menuju kesempurnaan itu sendiri. Langkah kecil yang dapat dilakukan adalah belajar memaafkan kesalahan orang, berani mengakui kelemahan diri dan mengapresiasi prestasi orang lain. Semua itu memang tidak mudah dan membutuhkan proses, jika mengalami kegagalan bukan berarti tidak mampu berjuang. Hidup bukanlah sebuah ajang perlombaan, yang penting bukanlah berapa kali kita jatuh, tetapi berapa kali kita berani untuk bangun dan berjuang kembali.
“Jangan pernah bermimpi menjadi sempurna jika kamu belum memiliki cinta”
Sr. Anggelin Susika, FMM
Komunitas St. Adolphine, Serang




